Generasi Z dan Millennial: Ketika ‘Hidup Hanya Sekali’ Bertabrakan dengan ‘Uang Tidak Cukup’

Jakarta, 2024. Siapa bilang generasi Z dan millennial tidak peduli soal uang? Mereka justru jadi korban utama dari tren finansial yang seksi tapi mematikan: hidup sekarang, bayar nanti—kalau bisa. Survei terbaru dari Bank Indonesia mengungkap 68% anak muda Indonesia mengaku kesulitan menabung, tapi 72% dari mereka punya langganan streaming, 5 aplikasi e-commerce, dan riwayat belanja online yang lebih panjang dari CV mereka. Ironisnya, ini terjadi saat inflasi merangkak naik, gaji stagnan, dan mimpi memiliki rumah hanya tinggal mimpi.

Konteks: Kapitalisme yang Berpakaian Influencer

Era digital mengubah cara generasi muda memandang uang. Dulu, orang tua mengajarkan “hemat pangkal kaya”. Sekarang, algoritma media sosial berbisik, “Beli ini, kamu layak!”. Platform seperti TikTok Shop dan Instagram Shopping menjadikan impulse buying bukan lagi kebiasaan buruk, tapi gaya hidup. Menurut Laporan We Are Social 2024, 45% pengguna internet Indonesia berusia 18-34 tahun melakukan pembelian online setidaknya sekali seminggu—angka tertinggi di Asia Tenggara.

Masalahnya, pendapatan mereka tidak ikut naik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan upah riil pekerja muda hanya tumbuh 2,3% per tahun sejak 2020, sementara harga properti di kota besar melonjak 15-20% dalam periode yang sama. Hasilnya? Kesenjangan antara keinginan dan kemampuan finansial semakin lebar, seperti celana jeans Zara yang dipaksa masuk ke tubuh pasca-Lebaran.

Tren yang Mematikan: Buy Now, Pay Later (BNPL) dan Kredit Tanpa Sadar

Solusi instan datang dalam bentuk BNPL—layanan yang memungkinkan konsumen membeli barang sekarang dan membayarnya nanti, biasanya dalam cicilan tanpa bunga. Menarik? Tentu. Berbahaya? Sangat. Riset Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan 30% pengguna BNPL di Indonesia adalah generasi Z, dengan 1 dari 5 di antaranya menunggak pembayaran. “Mereka tidak sadar ini utang,” kata Andi, 24, seorang content creator yang mengaku punya 7 akun BNPL. “Yang penting, barangnya sudah di tangan.”

Tren ini diperparah oleh maraknya kredit tanpa agunan (KTA) online yang menawarkan pinjaman cepat dengan bunga tinggi. Iklan-iklan seperti “Butuh uang 5 juta? Klik di sini!” bertebaran di media sosial, menargetkan anak muda yang terjebak dalam siklus utang. Menurut Laporan Perbankan Indonesia 2024, jumlah kredit macet di segmen ini meningkat 40% dibanding tahun lalu.

FOMO dan YOLO: Budaya Konsumtif yang Dijual sebagai “Pengalaman”

Generasi Z dan millennial tidak hanya membeli barang—mereka membeli pengalaman. Dari konser Coldplay di Singapura (yang tiketnya habis dalam hitungan menit), liburan ke Bali dengan villa mewah, hingga kelas yoga premium yang biayanya setara uang muka motor. “Kalau enggak ikut, kayak ketinggalan zaman,” ujar Dina, 28, seorang marketer yang mengaku menghabiskan 30% gajinya untuk liburan. “Tapi pulang-pulang, kartu kredit langsung nangis.”

Fenomena ini diperkuat oleh influencer yang mempromosikan gaya hidup mewah tanpa transparansi soal bagaimana mereka membiayainya. Sebuah studi dari Universitas Indonesia menemukan 60% konten influencer di Indonesia menampilkan produk atau layanan yang tidak terjangkau oleh mayoritas pengikut mereka. “Mereka menjual mimpi, tapi lupa bilang kalau mimpi itu butuh uang,” kata Dr. Rina, pakar psikologi konsumen.

Data yang Mengejutkan: Anak Muda dan Literasi Finansial

Meski melek teknologi, literasi finansial generasi muda Indonesia masih memprihatinkan. Survei OJK 2023 menunjukkan hanya 38% anak muda yang memahami konsep bunga majemuk, dan 25% tidak tahu cara menghitung cicilan kredit. “Mereka pintar menggunakan aplikasi, tapi buta soal bagaimana uang bekerja,” kata Budi, seorang perencana keuangan.

Lebih parah lagi, 55% responden mengaku tidak memiliki dana darurat. Ketika ditanya apa yang akan mereka lakukan jika kehilangan pekerjaan, jawaban paling umum adalah “minta tolong orang tua” atau “cari kerja freelance”. Tidak ada rencana B, apalagi rencana C.

Implikasi: Apa yang Terjadi Ketika “Hidup Sekarang” Bertemu “Uang Tidak Cukup”?

Krisis finansial generasi muda bukan sekadar masalah individu—ini bom waktu sosial. Ketika mayoritas anak muda tidak bisa menabung, membeli rumah, atau merencanakan masa depan, dampaknya akan terasa di seluruh ekonomi. Bank sentral mungkin harus menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, tapi ini hanya akan memperburuk beban utang mereka. Di sisi lain, industri properti dan otomotif akan kesulitan menemukan pembeli, karena generasi yang seharusnya menjadi pasar utama mereka justru terjebak dalam utang konsumtif.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek jangka panjang. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia akan menghadapi generasi yang tidak hanya miskin secara finansial, tapi juga miskin secara mental. Studi dari Harvard Business Review menunjukkan kecemasan finansial dapat menurunkan produktivitas hingga 30%. Bayangkan, sebuah negara dengan 70 juta generasi muda yang stres karena utang—bukan karena mereka malas, tapi karena sistem mendorong mereka untuk hidup di luar kemampuan.

Apa yang harus dilakukan? Pemerintah bisa mulai dengan memperketat regulasi iklan kredit dan BNPL, serta mengintegrasikan literasi finansial ke dalam kurikulum pendidikan. Perusahaan fintech juga perlu lebih transparan soal risiko utang, bukan hanya menawarkan kemudahan. Tapi pada akhirnya, tanggung jawab terbesar ada pada individu. Mungkin sudah waktunya generasi Z dan millennial berhenti mengikuti tren dan mulai membuat tren baru: hidup sederhana, tapi berkelimpahan—tanpa utang.

Yang pasti, satu hal sudah jelas: jika tren ini terus berlanjut, kita akan melihat lebih banyak anak muda yang terjebak dalam siklus “YOLO (You Only Live Once)” bertemu “YODO (You Only Die Once)—tapi utangnya tetap ada”. Dan itu bukan lelucon.

Finansial

Pinjol Ilegal vs. OJK: Pertandingan Kucing dan Tikus yang Tak Kunjung Usai

OJK terus blokir 1.000+ pinjol ilegal sejak Januari 2024, tapi para rentenir digital tetap gesit menjerat masyarakat yang terjepit kebutuhan

Selengkapnya
Finansial

Bank Digital vs. Bank Konvensional: Siapa yang Lebih Jago Main Drama Finansial?

Bank digital vs konvensional mana yang layak dipilih Simak perbandingan lengkapnya sebelum jadi korban antrean atau aplikasi error

Selengkapnya
Finansial

Uang Digital vs. Uang Kertas: Perang yang Dimenangkan oleh Siapa, Sebenarnya?

Uang digital kini mendominasi dengan lonjakan 45% sementara transaksi tunai turun 20%, apakah era tanpa uang kertas sudah dekat atau hanya strategi…

Selengkapnya