Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$3,0 miliar pada kuartal II 2024, meningkat signifikan dari defisit US$1,9 miliar pada kuartal sebelumnya. Lonjakan ini terjadi di tengah melambatnya ekspor komoditas dan tingginya impor barang modal, menurut data Bank Indonesia yang dirilis pada 15 Agustus 2024. Defisit tersebut menjadi yang terbesar sejak kuartal IV 2022, menandakan tekanan eksternal yang kian menguat terhadap fundamental ekonomi nasional.
Konteks: Mengapa Defisit Transaksi Berjalan Penting?
Transaksi berjalan mencatat aliran dana masuk dan keluar dari suatu negara, termasuk perdagangan barang, jasa, serta pendapatan primer dan sekunder. Defisit terjadi ketika pengeluaran untuk impor dan pembayaran luar negeri melebihi penerimaan dari ekspor dan pendapatan asing. Bagi Indonesia, defisit transaksi berjalan bukanlah fenomena baru, tetapi tren peningkatan dalam dua kuartal terakhir mengundang perhatian.
Pada 2023, defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat sebesar 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan 1,2% pada 2022. Namun, proyeksi Bank Indonesia untuk 2024 memperkirakan defisit akan melebar hingga 1,5% dari PDB, didorong oleh perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia per Juli 2024 tercatat sebesar US$145,2 miliar, cukup untuk membiayai 6,4 bulan impor, namun angka ini menurun dari posisi US$147,5 miliar pada Juni 2024.
Faktor Pendorong Defisit: Ekspor Lesu, Impor Menguat
Penurunan ekspor menjadi penyumbang utama defisit transaksi berjalan. Pada kuartal II 2024, nilai ekspor Indonesia turun 5,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$62,5 miliar, menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Penyebabnya adalah penurunan harga komoditas utama seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel. Harga batu bara acuan, misalnya, turun 20% yoy menjadi US$103 per ton pada Juli 2024, sementara harga minyak sawit mentah (CPO) anjlok 15% yoy menjadi US$850 per ton.
Di sisi lain, impor justru meningkat 3,8% yoy menjadi US$65,8 miliar. Lonjakan ini terutama didorong oleh impor barang modal dan bahan baku, yang naik 12% yoy. Kenaikan impor barang modal mencerminkan upaya pemerintah dan swasta untuk mempercepat proyek infrastruktur dan hilirisasi industri, tetapi juga menambah tekanan pada neraca perdagangan. “Kenaikan impor barang modal adalah sinyal positif untuk investasi jangka panjang, tetapi dalam jangka pendek, hal ini memperburuk defisit,” ujar Faisal Basri, ekonom senior dari Universitas Indonesia.
Peran Utang Luar Negeri dan Arus Modal Asing
Defisit transaksi berjalan harus dibiayai, dan salah satu sumbernya adalah utang luar negeri. Hingga Juni 2024, utang luar negeri Indonesia mencapai US$411,5 miliar, naik 4,1% yoy. Sebesar 52% di antaranya adalah utang pemerintah, sementara sisanya utang swasta. Meskipun rasio utang terhadap PDB masih relatif aman di angka 38%, peningkatan utang dalam dolar AS meningkatkan risiko nilai tukar rupiah.
Selain utang, arus modal asing juga berperan dalam pembiayaan defisit. Namun, aliran modal portofolio (investasi jangka pendek) cenderung fluktuatif. Pada kuartal II 2024, arus modal asing keluar sebesar US$2,1 miliar, terutama dari pasar obligasi pemerintah. “Ketidakpastian global, termasuk kebijakan The Fed dan tensi geopolitik, membuat investor cenderung risk-averse,” kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Dampak terhadap Rupiah dan Kebijakan Moneter
Defisit transaksi berjalan yang melebar memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Pada 15 Agustus 2024, rupiah ditutup pada level Rp16.300 per dolar AS, melemah 5,2% sejak awal tahun. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi defisit transaksi berjalan, arus modal keluar, dan penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga tinggi The Fed.
Bank Indonesia (BI) telah merespons dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,5% pada Juli 2024, langkah pertama sejak Oktober 2023. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga bertujuan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. “Kami akan terus memantau dinamika eksternal dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” ujarnya dalam konferensi pers.
Implikasi bagi Ekonomi dan Kebijakan ke Depan
Defisit transaksi berjalan yang melebar memiliki implikasi luas bagi ekonomi Indonesia. Pertama, tekanan pada rupiah dapat meningkatkan biaya impor, terutama bahan bakar dan pangan, yang berpotensi memicu inflasi. Kedua, defisit yang berkepanjangan dapat mengurangi kepercayaan investor, sehingga memperburuk arus modal keluar. Ketiga, pembiayaan defisit melalui utang luar negeri meningkatkan risiko nilai tukar dan beban pembayaran utang di masa depan.
Pemerintah dan BI perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi defisit. Dari sisi fiskal, pemerintah dapat mempercepat hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah ekspor, serta mengendalikan impor barang konsumsi yang tidak esensial. Dari sisi moneter, BI mungkin perlu mempertimbangkan intervensi lebih lanjut di pasar valuta asing atau melanjutkan kenaikan suku bunga jika tekanan eksternal terus berlanjut.
Ke depan, perkembangan defisit transaksi berjalan akan sangat bergantung pada dinamika global. Pemulihan ekonomi Tiongkok, kebijakan The Fed, dan harga komoditas akan menjadi faktor kunci yang perlu dipantau. Jika defisit terus melebar tanpa diimbangi oleh arus modal masuk yang stabil, Indonesia mungkin menghadapi tantangan makroekonomi yang lebih berat pada 2025.
