Indonesia mencatat perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2024, dengan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,03% year-on-year (yoy), turun dari 5,04% pada kuartal sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ini pada 6 Mei 2024, menyoroti penurunan kinerja sektor manufaktur dan ekspor komoditas sebagai penyebab utama. Perlambatan ini terjadi di tengah ketidakpastian global, termasuk melambatnya ekonomi Tiongkok dan kebijakan moneter ketat di negara-negara maju, yang berdampak pada permintaan dan investasi di dalam negeri.
Konteks: Mengapa Pertumbuhan Melambat?
Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dua tahun terakhir didorong oleh pemulihan pascapandemi dan lonjakan harga komoditas global. Namun, sejak akhir 2023, tren ini mulai berbalik. Harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) turun hingga 30% dibandingkan puncaknya pada 2022, menggerus pendapatan ekspor dan devisa negara. Sementara itu, sektor manufaktur—yang menyumbang 18% PDB—tertekan oleh melambatnya permintaan global dan persaingan ketat dari produk impor, terutama dari Tiongkok.
Faktor domestik juga berperan. Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari 50% PDB, tumbuh hanya 4,8% yoy, terendah sejak 2021. Inflasi yang masih di atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 2-4%—tercatat 3,05% pada April 2024—menggerus daya beli masyarakat. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 250 basis poin sejak Agustus 2022 hingga Oktober 2023 memperketat likuiditas, menghambat pertumbuhan kredit perbankan yang hanya tumbuh 9,3% yoy pada Maret 2024, jauh di bawah rata-rata pra-pandemi sebesar 12%.
Sektor-Sektor Kunci yang Tertekan
Data BPS menunjukkan sektor manufaktur tumbuh hanya 3,9% yoy, turun dari 4,5% pada kuartal sebelumnya. Industri tekstil dan alas kaki, yang menyerap jutaan tenaga kerja, bahkan mencatat kontraksi 2,1% yoy akibat penurunan ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Sementara itu, sektor pertambangan—yang sebelumnya menjadi penopang pertumbuhan—hanya tumbuh 1,2% yoy, dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara dan tembaga di pasar global.
Di sisi lain, sektor pertanian tumbuh 1,4% yoy, didorong oleh panen raya padi dan komoditas hortikultura. Namun, pertumbuhan ini tidak cukup untuk mengimbangi perlambatan di sektor lain. Sektor jasa, termasuk perdagangan dan transportasi, tetap resilien dengan pertumbuhan 5,6% yoy, meski masih di bawah potensi akibat lemahnya daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Perspektif Ahli dan Data Pendukung
Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai perlambatan ini sebagai “sinyal peringatan” bagi pemerintah. “Kita melihat kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang belum sepenuhnya tertangani. Jika tidak ada intervensi kebijakan yang tepat, pertumbuhan 2024 bisa meleset dari target pemerintah sebesar 5,2%,” ujarnya. Proyeksi Bank Dunia dan IMF juga merevisi pertumbuhan Indonesia pada 2024 menjadi 4,9% dan 5,0%, masing-masing turun dari proyeksi sebelumnya.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor non-migas turun 8,5% yoy pada kuartal pertama 2024, sementara impor turun 5,2% yoy. Penurunan ini mencerminkan lemahnya permintaan global dan proteksionisme dagang yang meningkat. Di sisi investasi, realisasi investasi asing langsung (FDI) hanya tumbuh 3,7% yoy, terendah sejak 2020, menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. “Kami akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 6,25% untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Namun, stimulus fiskal dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendorong konsumsi dan investasi,” katanya dalam konferensi pers pada 23 April 2024.
Implikasi: Apa yang Harus Diwaspadai?
Perlambatan ekonomi ini berpotensi memperlebar ketimpangan. Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka naik menjadi 5,3% pada Februari 2024, dari 5,1% pada Agustus 2023. Sektor informal, yang menyerap 59% tenaga kerja, menjadi yang paling rentan. “Jika pertumbuhan terus melambat, risiko peningkatan kemiskinan dan pengangguran akan semakin nyata,” kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad.
Di sektor keuangan, perlambatan pertumbuhan kredit berisiko meningkatkan kredit macet (NPL). OJK mencatat NPL perbankan naik menjadi 2,4% pada Maret 2024, dari 2,2% pada Desember 2023. “Bank-bank akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama ke sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi,” jelas Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar.
Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan countercyclical, termasuk percepatan belanja infrastruktur dan insentif pajak untuk sektor padat karya. Namun, efektivitas kebijakan ini masih dipertanyakan. “Belanja pemerintah pada kuartal pertama 2024 hanya terealisasi 15% dari target APBN. Ini menunjukkan lambatnya eksekusi anggaran,” kritik Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal.
Apa yang Perlu Dipantau Selanjutnya?
Beberapa indikator kunci akan menentukan arah ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2024. Pertama, perkembangan harga komoditas global, terutama CPO dan nikel, yang menjadi andalan ekspor. Kedua, kebijakan moneter The Fed dan bank sentral utama lainnya—jika suku bunga AS tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah dan arus modal keluar akan berlanjut. Ketiga, realisasi belanja pemerintah, terutama untuk proyek strategis nasional seperti Ibu Kota Negara (IKN) dan infrastruktur transportasi.
Di sisi domestik, pemulihan daya beli masyarakat menjadi krusial. “Program bantuan sosial dan subsidi energi harus tepat sasaran untuk mendorong konsumsi,” saran Ekonom Senior Universitas Indonesia, Faisal Basri. Selain itu, reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur—seperti penyederhanaan regulasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia—harus dipercepat.
Terakhir, dinamika politik pasca-pemilu 2024 juga akan memengaruhi iklim investasi. “Investor akan menunggu kepastian kebijakan ekonomi dari pemerintahan baru. Jika ada perubahan signifikan dalam arah kebijakan, seperti proteksionisme yang berlebihan, ini bisa mengurangi minat investasi,” tambah Andry Asmoro.
