Jakarta, 15 Oktober 2024 — Indonesia, negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, mulai melirik potensi energi arus laut sebagai sumber listrik masa depan. Proyek percontohan di Selat Larantuka, Nusa Tenggara Timur, yang diluncurkan pada awal tahun ini, kini memasuki fase uji coba skala penuh. Inisiatif ini dipimpin oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perusahaan teknologi energi asal Norwegia, OceanEnergy. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025.
Lautan yang Tak Pernah Berhenti: Mengapa Arus Laut?
Energi arus laut, atau ocean current energy, memanfaatkan pergerakan air laut yang konstan dan dapat diprediksi. Berbeda dengan energi surya atau angin yang bergantung pada cuaca, arus laut menawarkan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan. Menurut laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) tahun 2023, potensi energi arus laut global mencapai 800 terawatt-jam (TWh) per tahun, dengan Indonesia menyumbang sekitar 10% dari total potensi tersebut.
“Indonesia memiliki keunggulan geografis yang luar biasa. Selat-selat sempit seperti Selat Larantuka, Selat Lombok, dan Selat Alas menjadi lokasi ideal karena arusnya yang kuat dan konsisten,” ujar Dr. Widodo Pranowo, peneliti senior di Pusat Riset Kelautan BRIN. Studi BRIN pada 2022 menunjukkan bahwa Selat Larantuka saja memiliki potensi menghasilkan hingga 20 megawatt (MW) listrik, cukup untuk memenuhi kebutuhan 20.000 rumah tangga.
Teknologi di Balik Gelombang: Turbin dan Tantangannya
Proyek di Selat Larantuka menggunakan teknologi turbin arus laut horizontal, mirip dengan turbin angin tetapi dirancang untuk beroperasi di bawah permukaan air. Turbin ini memiliki diameter 10 meter dan mampu menghasilkan listrik dengan kecepatan arus minimal 1,5 meter per detik. “Desainnya harus tahan terhadap korosi, tekanan air, dan dampak lingkungan seperti terumbu karang atau biota laut,” jelas Lars Erik Olsen, CEO OceanEnergy, dalam wawancara dengan Kompas.
Namun, tantangan teknis dan ekonomi masih menghadang. Biaya pembangunan infrastruktur energi arus laut saat ini masih tinggi, sekitar 4-6 kali lipat dibandingkan energi surya atau angin. Selain itu, pemeliharaan turbin di laut dalam memerlukan teknologi dan sumber daya manusia yang mumpuni. “Kami sedang mengembangkan material komposit yang lebih ringan dan tahan lama untuk mengurangi biaya operasional,” tambah Olsen.
Dampak Lingkungan dan Sosial: Antara Harapan dan Kekhawatiran
Meskipun energi arus laut dianggap ramah lingkungan, dampaknya terhadap ekosistem laut masih menjadi perdebatan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Renewable and Sustainable Energy Reviews pada 2023 menunjukkan bahwa turbin arus laut dapat mengganggu migrasi ikan dan mamalia laut jika tidak dirancang dengan baik. “Kami bekerja sama dengan ahli kelautan untuk memastikan turbin tidak mengganggu jalur migrasi paus dan lumba-lumba,” kata Dr. Widodo.
Di sisi sosial, proyek ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru di daerah pesisir. Pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur telah menyiapkan program pelatihan untuk masyarakat lokal agar dapat terlibat dalam operasional dan pemeliharaan turbin. “Ini adalah kesempatan untuk mengurangi pengangguran sekaligus meningkatkan literasi energi terbarukan,” ujar Gubernur NTT, Viktor Laiskodat.
Masa Depan Energi Arus Laut di Indonesia: Apa Selanjutnya?
Pemerintah Indonesia menargetkan kapasitas energi arus laut mencapai 100 MW pada 2030. Untuk mencapai target ini, Kementerian ESDM telah mengalokasikan dana sebesar Rp 500 miliar untuk penelitian dan pengembangan teknologi. “Kami juga membuka peluang investasi bagi perusahaan swasta, baik lokal maupun internasional,” kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana.
Selain Selat Larantuka, beberapa lokasi lain yang potensial untuk pengembangan energi arus laut antara lain Selat Lombok, Selat Alas, dan Selat Sunda. “Kami sedang melakukan survei untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi baru yang memiliki potensi tinggi,” tambah Dadan.
Di tingkat global, energi arus laut masih dalam tahap awal pengembangan. Namun, negara-negara seperti Inggris, Skotlandia, dan Kanada telah memimpin dengan proyek-proyek percontohan yang sukses. “Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pionir di Asia Tenggara,” kata Benj Sykes, Wakil Presiden Offshore Wind di Ørsted, perusahaan energi terbarukan asal Denmark.
Apa yang Perlu Diperhatikan?
Keberhasilan proyek energi arus laut di Indonesia akan sangat bergantung pada tiga faktor utama: teknologi, regulasi, dan pendanaan. Pemerintah perlu segera merumuskan kebijakan yang mendukung investasi di sektor ini, termasuk insentif pajak dan kemudahan perizinan. “Tanpa dukungan kebijakan yang jelas, proyek-proyek seperti ini akan sulit berkembang,” ujar Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR).
Bagi masyarakat, energi arus laut menawarkan harapan baru untuk akses listrik yang lebih stabil dan ramah lingkungan. Namun, partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk akademisi, industri, dan komunitas lokal, akan menjadi kunci keberhasilan. “Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita mengelola sumber daya alam dengan bijak,” tutup Dr. Widodo.
Sementara itu, perkembangan proyek di Selat Larantuka akan menjadi tolok ukur bagi masa depan energi arus laut di Indonesia. Jika berhasil, ini bisa menjadi model bagi negara-negara kepulauan lain di dunia. Pantau terus perkembangannya, karena gelombang energi masa depan mungkin saja dimulai dari lautan Indonesia.
